Sabtu, 13 Juni 2009

Tahukah anda terkadang BBM yang kita isikan ke motor tidak sesuai ???



Mobil atau Motor kita baiknya diisi bensin apa ya? Ada pilihan bensin yaitu Premium, Pertamax dan Pertamax Plus yang merupakan produk Pertamina, dan ada juga bensin jenis lain dari perusahaan asing seperti Shell dan Petronas. Semakin banyak lagi pilihan kita.

Mesin mobil maupun motor memerlukan jenis bensin yang sesuai dengan desain mesin itu sendiri agar dapat bekerja dengan baik dan menghasilkan kinerja yang optimal. Jenis bensin tersebut biasanya diwakili dengan angka / nilai oktan (RON), misalnya Premium ber-oktan 88, Pertamax ber-oktan 92 dan seterusnya.

Semakin tinggi angka oktan, maka harga per liternya pun umumnya lebih tinggi. Namun belum tentu bahwa jika mengisi bensin ber-oktan tinggi pada mesin mobil/motor kita, kemudian akan menghasilkan tenaga yang lebih tinggi juga. Wah jadi bagaimana dong?


Jika kita cermati spesifikasi kendaraan kita (mobil atau motor) pada brosur yang baik akan menampilkan informasi rasio kompresi (Compression Ratio / CR). CR ini adalah hasil perhitungan perbandingan tekanan yang berkaitan dengan volume ruang bakar terhadap jarak langkah piston dari titik bawah ke titik paling atas saat mesin bekerja. terlihat pada foto, bahwa CR mesin mobil Timor DOHC S515i adalah 9.3 : 1

Dari informasi spesifikasi brosur tersebut, kita bisa menentukan bahwa mesin mobil timor tersebut memerlukan jenis bensin yang bernilai oktan 92, yaitu bensin Pertamax.

Bagaimana jika diisi bensin dengan oktan lebih rendah?

Bensin dengan oktan rendah lebih mudah terbakar. Semakin tinggi nilai CR pada mesin artinya membutuhkan bensin bernilai oktan tinggi. Mesin berkompresi tinggi membuat bensin cepat terbakar (akibat tekanan yang tinggi), yang akan menjadi masalah adalah, ketika bensin terbakar lebih awal sebelum busi memercikkan api. Saat piston naik ke atas melakukan kompresi, bensin menyala mendahului busi, akibatnya piston seperti dipukul keras oleh ledakan ruang bakar tersebut. Kita sering mendengar istilah “Ngelitik” (pinging/knocking). Bagaimana menggambarkan ‘kejam’nya ngelitik yang dirasakan piston? Ibarat telapak tangan kita ditusuk2 dengan paku… kira-kira begitu. Perlahan namun pasti.. membuat piston seperti permukaan bulan… dan bahkan bisa bolong!.. hiiii….

Saat terjadi ‘ngelitik’, bensin tidak menjadi tenaga yang terpakai. Kerja mesin tidak optimal. Kembali diulang, mesin yang CR nya tinggi, memerlukan bensin yang lambat terbakar. Semakin tinggi nilai CR, bensin harus semakin lambat terbakarnya (oktan tinggi).

Nah, jadi untuk teman-teman, cermati nilai CR mesin mobil/motor kita (bisa intip pada daftar di bawah), isilah bensin yang sesuai untuk mesin tersebut.

Bagaimana kalau diisi bensin dengan oktan lebih tinggi?

Bensin dengan oktan lebih tinggi (pertamax, pertamax plus, dsb), umumnya dilengkapi dengan aditif pembersih, dan sebagainya. Namun tidak banyak memberi penambahan tenaga, jadi angka oktan tinggi bukan artinya lebih ‘bertenaga’.
Karena benefitnya kurang sebanding jika dibanding harganya yang tinggi, maka ujung-ujungnya hanyalah merupakan pemborosan uang saja.

Kesimpulan:

- Dianjurkan mengisi bensin sesuai nilai rasio kompresi. (kecuali ada modifikasi lain).

- Semakin TINGGI nilai oktan, maka bensin semakin lambat terbakar (dikarenakan titik bakarnya lebih tinggi).

- Semakin TINGGI nilai oktan, maka bensin lebih sulit menguap (penguapan rendah)

- Bensin yang gagal terbakar (akibat oktan terlalu tinggi), bisa menyebabkan penumpukan kerak pada ruang bakar atau pada klep.

Solusi Alternatif

Banyak cara untuk menyiasati agar bisa menggunakan bensin Premium pada mesin yang ber-CR tinggi, namun mesin tidak mengalami ‘ngelitik’, antara lain:
- Menambahkan Octane Booster pada bensin (dimasukkan ke tangki bensin)
- Menggunakan katalis untuk menaikkan nilai oktan (biasanya mengandung timbal, tidak ramah lingkungan).
- Merubah derajat waktu pengapian (ignition timing) ke posisi yang lebih lambat (Retard).
- Menggunakan aplikasi water-injection (agak repot untuk perawatannya).
- dan lain-lain.

Fakta…

Pada kenyataannya.. banyak kita lihat, khususnya di SPBU, motor-motor baru yang berkompresi tinggi mengantri panjang di pompa bensin jenis Premium. Faktor ekonomi lebih mendesak ketimbang dampak rusak ke depan pada mesin motornya.. atau memang kurangnya informasi mengenai pemilihan bensin ini.

Berkat bantuan banyak teman baik dari beberapa milis, saya coba kumpulkan dan sajikan daftar Rasio Kompresi untuk mobil dan motor berbagai merek. Atas segala keterbatasan dan kekurangan saya, mohon maaf apabila mobil atau motor Anda belum terdaftar, bagi yang mempunyai data untuk melengkapi silahkan tambahkan pada kolom komentar.

Tabel di bawah sengaja di beri warna, sesuai dengan bensin yang direkomendasi.

semoga bermanfaat!

Sumber Referensi:
Octane rating
Compression Ratio
Engine knocking
Determining Compression Ratio
What does octane mean?
Gasoline FAQ
Informasi Bensin Premium
Informasi Bensin Pertamax
Informasi Bensin Pertamax Plus
Penelitian Pengaruh Komposisi Kimia Bensin Terhadap Emisi Gas Buang Kendaraan Bermotor

SAFT7 – Automotive tips and sharing

1. Beberapa informasi tambahan yang mungkin bermanfaat:

1. Kejadian knocking /ngelitik:
Suara yang kita dengar sebagai “knocking” (istilah Indonesianya: ketuk) sebenarnya adalah pertemuan dua lidah api dari dua ledakan dari dua pembakaran yang terjadi berurutan. Satu pembakaran terjadi dari ledakan spontan bensin beroktan rendah, satu lagi dari pembakaran yang memang semestinya terjadi oleh busi (setelah pembakaran spontan yang salah tersebut, dengan bahan bakar belum semuanya menyala, busi memercikkan apinya). Ketuk ini memberi tekanan yang sangat besar pada piston dan klep (dan juga dinding silinder), dan dalam jangka panjang, akan merusak mesin. Pembakaran spontan (prematur) tersebut juga mengurangi efisiensi mesin karena ekspansi gas dari pembakaran terjadi mendahului saat dimana ekspansi tersebut diinginkan untuk menekan piston turun (power stroke).

2. Memundurkan timing untuk mencegah knocking.
Agar kedua ledakan /pembakaran tidak saling tubruk, maka timing dimajukan. Jadi pembakaran yang semestinya terjadi justru mendekati waktu pembakaran yang keliru. Maka terhindarlah dua lidah api bertemu dari dua ledakan. Tentu saja tindakan ini akan menurunkan efisiensi mesin. Silakan coba: Mundurkan timing pada kendaraan yang masih bisa disetel manual. Akan didapatkan jarum penunjuk temperatur mesin naik sedikit pada temperatur operasi.

Pada kendaraan dengan knocking sensor, terdapat sensor getaran pada dinding mesin. Bila sensor ini mendeteksi getaran pada frekuensi yang tidak normal (dideteksi sebagai ketuk), ECU (atau vacuum pada mesin lama) akan menarik timing maju, dan mungkin akan menyesuaikan aliran bahan bakar.

3. Hubungan dengan rasio kompresi.
Rasio kompresi bukan satu-satunya penentu angka oktan yang diperlukan. Bentuk ruang bakar, desain mesin, bentuk kepala piston, perbandingan campuran bahan bakar, aliran masuk bahan bakar (dan manajemen alirannya serta fitur seperti cyclone, valve deactivation, variable valve timing, turbocharger /supercharger, gasoline direct injection, dll) juga bisa mengubah kebutuhan oktan naik /turun. Jadi sebaiknya dilihat buku petunjuk (manual kendaraan) mengenai kebutuhan oktan. Termasuk apakah kendaraan boleh menggunakan bahan bakar bertimbal, menambah aditif, dll.

4. Memilih angka oktan.
Memilih oktan untuk kendaraan seperti mengisi air ke dalam gelas hingga tinggi tertentu. Ada batas di mana mesin akan terpuaskan. Kurang menyebabkan tidak optimal dan terganggu. Makin penuh makin OK. Namun terlalu banyak hanya akan tumpah, mubazir saja.

5. Oktan di pompa bensin di Indonesia.
Dengan hadirnya bensin dari berbagai produsen,angka oktan pada bensin semakin ngetop. Dulu kita hanya tahu premium, pertamax (ex super). Premium beroktan 88 (dulu 87) (padahal sudah lazim di dunia otomotif premium beroktan 90 ke atas, 88 disebut regular). Sekarang kesadaran akan nilai oktan menjadi tinggi, karena angka oktan menjadi standar pembanding antar merk bensin dari berbagai produsen.
Sebenarnya sudah saatnya di Indonesia dibuat peraturan agar angka oktan harus dituliskan dengan angka besar di setiap dispenser pompa bensin, dan di balik flap tutup lubang pengisian tangki bahan bakar /pada tangki tanpa flap: pada dinding tangki bahan bakar kendaraan.

14 comments:

Yunus Akhsani mengatakan...

Sekarang Blog ini aq lengkapi dengan berbagai macam download

Anonim mengatakan...

Waduh, ini mah didramatisir kalau sampai piston seperti itu ; emang sebelum tercapai tingkat itu,kendaraan dipakai ngapain kok sampai terlambat ?
Ya sebenarnya masalahnya memang ada di dana untuk penggunaan bbm beroktan sesuai.Untuk kendaraan produk sekarang info itu sudah tertulis.
Masalah paham / tidak, sebenarnya tergantung pemiliknya sadar atau tidak terhadap lingkungan YANG TIDAK PERNAH dikorelasikan antara oktan bbm, kompresi dan polusi.
Nah pada kesempatan kali ini, mungkin mas Yunus bisa mengkorelasikan 3 hal tersebut ; semoga semakin sadar para pemilik untuk beralih menggunakan bbm yang sesuai.
Lagian sepertinya dengan penggunaan TWC, hampir terkendali polusinya, jadi ya kenapa mesti beli bbm yang mahal, kalau dengan yang murah saja cukup / bisa.
Beli unit bisa kredit sih, sedangkan beli BBM harus cash,walaupun sudah bisa yang pakai credit card sih.
Mas, usul; mungkinkah pembahasan itu dikorelasikan dengan dampak-2 lain ; apakah polusi apakah frequensi perawatan yang berubah dll.
Oke .Ma kasih.

Anonim mengatakan...

waduh, kayaknya didramatisir tu.Emang sebelum terjadi begitu ada pertanda apa yang bisa diketahui ? kan kalau knocking bisa di mundurin saat pengapiannya.Masa' ya masih bisa rusak begitu ? penggunaan bbm yang nilai oktannya gak sesuai apakah ada hubungannya dengan polusi ?

Anonim mengatakan...

Ass,
mau ikutan nih, boleh kan !?
Kalau menurut gue nih hubungan penggunaan bbm yang tidak sesuai yang berakibat polusi sepertinya begini runtutnya.(tolong temen-2 pembaca berkenan mengoreksi ya kalau ada salah gue, kita kan sedang belajar bersama, oke !?)
Pembakaran sempurna adalah target setiap proses pembakaran agar didapatkan nilai keoptimalan berupa panas yang jadi tenaga dan gas buang hasil pembakaran yang bersih.
Seperti telah diurai diatas oleh mas Yunus adalah salah satu penyebab pembakaran tidak sempurna adalah ledakan yang tidak serempak yang berakibat knocking ,pengapian terlalu dini juga mengakibatkan knocking, pengapian yang terlambat pun mengakibatkan pembakaran tidak sempurna ; walaupun TIDAK disertai knocking.Dengan begitu, sebenarnya bukan hanya penggunaan bbm yang tidak tepat saja yang dapat mencemari lingkungan, tapi penyetelan yang tidak benar pun dapat meningkatkan polusi udara.Pada kendaraan jadul, semua peralatan yang berhubungan dengan pembakaran ini masih dapat disetel ; tapi tidak dengan kendaraan masa kini yang semuanya sudah serba elektronik dan diprogram baku.TAPI tidak berarti sudah bebas polusi, tergantung pada operasioanlnya.Kalau di kendaraan jadul, kita masih perlu stel platina, naa-voor atau saat pengapian,stel karburator dll, dengan pemakaian bbm yang benar saja kalau penyetelan itu gak bener,ya polusi meningkat; apalagi kalau bbmnya gak bener.Naha kendaraan sekarang tinggal gunakan bbm yang bermutu dan benar, kendarai dengan baik dan benar,perawatan yang rutin, insya Allah polusi dapat ditekan.
Pertanyaannya, kalau memang kendaraan sekarang sudah serba elektronik, lalu untuk apa perawatan ?
Jawabnya, bagaimanapun buatan manusia pasti tidak sempurna,tidak ada jaminan bbm bermutu 100 % dan cara pengooperasionalan yang sempurna.Sehingga dengan masa kerja tertentu perlu koreksi-2.Yang saat ini sangat memprihatinkan adalah, kendaraan yang semestinya sudah harus menggunakan bbm beroktan tinggi masih menggunakan sebaliknya HANYA "toh juga bisa dipakai,gak klitik tu".Semoga dengan media ini kita dapat memberikan sumbangsih pewacanaan yang lebih baik.
Seperti gue tulis diatas, bahwa tidak knocking belum tentu pembakaran sempurna.Tapi jelas, bahwa penggunan bbm yang mestinya beroktan tinggi kalau dipakai yang rendah tidak akan menghasilkan pembakaran sempurna dan ini pasti polusi meningkat.Yang pertama dirasakan selain kandungan emisi gas buang yang tidak ramah lingkungan, ruang bakar akan menjadi CEPAT KOTOR, dan ini berdampak kinerja mesin turun, pelumas mesin cepat kotor, friksi yang meningkat, mesin yang panas dan masih banyak keburukan yang lain selain polusi itu sendiri.Sangat disayangkan bahwa produsen kendaraan HANYA mementingkan nafsu lakunya produk, sehingga menyiasati dengan pemasangan knocking sensor agar tidak timbul keluhan pelanggannya kalau kendaraannya klitik.Jadi . . . .kalau sudah punya kendaraan ya, ikutilah aturan main yang benar jangan asal.
Ok pembaca terhormat, kurang dan lebihnya mohon maaf kalau ada yang kurang pas.Kalau ada sumur diladang perkenankan gue numpang mandi (bukan pornoaksi loh ).Salam

Yunus Akhsani mengatakan...

For All Bapak-2, Dulu saya pernah bekerja di Dealer Peugeot, mobil tersebut dalam Buku Petunjuknya mengatakan harus menggunakan Bensin yang oktanya tinggi (Pertamax Plus), ternyata si costumer menggunakan bensin biasa alias tidak sesuai akibatnya adalah
1. Injector sering buntu karena tersumbat oleh timbal yang terdapat pada bensin itu.
2. Catalitic Converter yang berfungsi mengurai gas emisi dan harganya diatas 7 jutaan rusak akibat tersumbat juga oleh pembakaran yang tidak sempurna dari bensin biasa
3. Sensor Oxigen yang di tancapkan ke catalitic Converter rusak juga akibat kotoran hasil pembakaran
4. si custumer mengeluh mobilnya boros tenaga tidak ada
5. Busi juga menjadi lebih cepat kotor
6. ketika saya lihat pada diagnosis muncul kode2 kerusakan yang banyak

Nah dari pengalaman diatas disimpulkan pengenya si customer mengirit biaya awal beli bensin biasa, ternyata akhirnya mbendol mburi bahasa jawanya hahahaha....bengkel untung kita rugi.
Sebaiknya sebelum membeli sebuah kendaraan kita harus menyesuaikan dulu kondisi kita dan juga menggunakan bahan bakar apa yang dijinkan oleh si pembuat kendaraan agar tidak seperti contoh di atas..ok semoga bermanfaat jawaban saya

Anonim mengatakan...

Makanya peugeot lakunya susah, terlalu exclusive sih mintanya.Apa gak tahu kalau Indonesia itu beda.
Wah, mas ini tambah rancu lagi dong.
Uraian sampeyan ngacak nih.
Setahu gue kasus yang sampeyan contohkan dengan si Singa berdiri itu beda lagi.
Kalau itu bukan masalah bensin biasa atau pertamax supernya.Nah loh.
Katalitik buntu itu bukan masalah pembakaran tidak sempurnanya TAPI . . . .karena kandungan TIMAH HITAM yang (katanya) sekarang sudah tidak digunakan lagi sebagai pengupaya menaikkan nilai oktan.
Sepertinya tulisan diatas hanya mengatakan ketidak sempurnaan pembakaran dari hasil penggunaan nilai oktan yang tidak tepat.Andai pertamax super ini dipakai tambahan lead / timah hitam untuk mengangkat nilai oktannya, hasil akan sama terhadap katalitik.
Di buku petunjuk kendaraan pun yang menggunakan katalitik mensyaratkan unleaded disamping RON atau research oktan number.Wah sampeyan nambahi bingung dong.
Sedangkan injector buntu itu memang kotoran fisik bbm nya yang mana juga dipengaruhi additive yang gak matching dengan logam & kondisi lingkungan yang lembab ; makanya sekarang hampir semua kendaraan injection menggunakan multi poin alias 1 injektor berlubang banyak.
Itu cerdiknya Jepang untuk tidak ikut-2 exclusive dulu pakai katalitik di exhaustnya.
So . . . . .semoga gak ada masalah lagi untuk katalitik konverter buntu akibat timah hitam TAPI tetap gunakan bbm yang sesuai dengan kebutuhan mesin, bukan sekedar kebutuhan dompet.

Anonim mengatakan...

Dear all, siapa yang punya informasi mengenai pemilihan penggunaan pelumas mesin ya ?
Bisakah di share disini ? Bang Yunus ,permisi ya numpang tempat.

Anonim mengatakan...

sore mas, aku punya masalah dengan mobil ku nih, aku punya xenia 1.0 th 2008, servisnya rutin, odometernya sekarang sudah 25ribu gitu, yang jadi permasalahan ku : kenapa xenia 1.0 lebih sering buntu/ kotor injektornya ketimbang punya xenia 1.3 bahkan lebih awet punya taruna yang dari tahun silam hingga sekarang belum pernah kotor/ buntu seperti xenia 1.0 ? bahan bakar yang aku pakai pertamax tuh, tapi koq ga ngefeknya ? apa aku yang ga bisa bawa mobil ya ?tolong infonya dong mas !!!

Anonim mengatakan...

untuk pelumas cari yang kita untung bangsa ga buntung aja banyak pilihanya lagi, trus bisa membangun semangat cinta produk indonesia pula, jaman sekarang cari pelumas ko bingung ( jangan sampai buat malingsia makin kaya tuh)!

Anonim mengatakan...

dear anonim yang tanya xenia 1,0
Itu so pasti yang vvt-i ya.Coba cermati di posting mengenai vvt-i ; jelas dong karena overlaping katup inletnya 40 derajat sebelum titik mati atas ; berarti piston sedang melaju naik dengan membawa gas bekas yang seharusnya dibuang keluar, sebagian jadi masuk kembali ke inlet / intake manifold, jadilah mengotori injektor.Kejadian ini biasanya karena banyak digunakan pada kecepatan rendah beban berat ; bisa ditanjakan dengan rpm rendah atau dalam kota gigi tinggi rpm rendah.
Kebanyakan driving style kita seperti itu, jadi ya sering-2 aja bbm nya di campur dengan pembersih injektor.
untuk lebih jelasnya cermati pada posting diatas mengenai vvt-i.
Semoga jelas dan bermanfaat.

Anonim mengatakan...

mr anonim bangsa untung,
bagi dong datanya,saya denger ngluarin prima xp 10w 40 ya !? tapi aku cari di SPBU kok gak ada ya ?

Yunus Akhsani mengatakan...

Dear All,
1. untuk Bapak yang butuh pemilihan pelumas segera akan saya cari datanya Pak dan segera akan saya Posting
2. Untuk bapak yang pakai xenia 1.0 penjelasan dari bapak anonim lainya kaya'nya bermanfaat, tapi saya tambahin sekali-kali bapak tancap dengan kecepatan tinggi di toll Pak biar injectornya bersih karena mendapat tekanan lebih tinggi oleh BBM sehingga kotoran-kotoran yang menyumbat bisa hilang

Anonim mengatakan...

to mr prima xp 10w-40

oli ini bisa ditemui di pertamina divisi pelumas (JIKA DI SURABAYA KURANG TAHU SAYA TEMPATNYA )sebab pelumas ini dikemas dalam kemasan drum, jadi jika dicari di seluruh SPBU sepertinya belum bisa ditemukan dehc !

Anonim mengatakan...

dear pengguna Xenia dan sejenisnya.
Kalau anda cermati kembali brozur kendaraan itu juga dari list diatas, maka sebenarnya Xenia dkk sudah SEHARUSNYA pakainya minimal PERTAMAX.Memang pakai Premium sih bisa saja beroperasi tapi termasuk pemerkosaan.Coba sesekali anda gunakan Pertamax, anda akan merasakan perbedaan yang sangat signifikan terlebih pada performance / tenaganya.Alhasil kalau gaya mengemudinya tidak dikoreksi,maka penggunaan Pertamax akan menjadikan konsumsi bbmnya bertambah.INI yang menjadi sebab utama,mengapa mereka yang terbiasa pakai Premium lalu mencoba Prtmax tidak lama bertahan.SEKALI LAGI.Kalau anda mencoba pakai Pertamax, gaya mengemudinya perlu disesuaikan kembali.Disamping itu, kondisi ruang bakar relatif lebih bersih, sehingga saran interval penggantian pelumas mesin di buku untuk tiap 10.000 km dapat diikuti.
Andai semua pemilik kendaraan memahami dan menyadarinya, berapa penghematan sumber alam dapat di hemat.
Kadang saya juga bingung,kenapa pemilik lebih mendengar kata penjual pelumas daripada informasi yang ditulis dalam buku pedoman pemakaian.
Logikanya, pabrik kendaraan tak akan berani / mau mempertaruhkan namanya hanya untuk sekedar menghemat penggunaan pelumas dari bisa untuk 10.000 km ganti menjadi 5.000 km ganti;sebagaimana kata penjual pelumas yang jelas dia ingin supaya pelumasnya laku dengan "lebih baik sering ganti pelumas daripada mesin berantakan " !?
Saran saya, gunakan bbm & pelumas yang di syaratkan ; periksa kembali gaya mengemudi anda dan nikmati keuntungan anda ber Xenia khususnya.

Salam hangat,
Oscar Romeo Big tag ?

Popular Posts